Rabu, 21 Februari 2018

Dakwah nabi daud a.s


DAKWAH NABI DAUD A.S 

Setelah wafat Nabi Yusya' bin Nun wafat, krisis dan kekacauan kian parah melanda bani Israel di Palestina. Banyak di antara mereka berpaling dari agama Yahudi kepada penyembahan berhala (paganisme) yang telah menjalar di kalangan masyarakat Kan'an. Karena itu, sekelompok pimpinan setempat bangkit memerangi keyakinan sesat tersebut. Mereka adalah para hakim yang bebreapa periode sejarah Yahudi dinamakan dengan nama mereka.

Pada pertengahan era itu, bangsa Palestina menyerang bani Israil untuk merampas Tabut, kitab perjanjian. Hal ini juga dilakukan oleh bangsa Madyan, Ammonoid, Moabite, dan Aram (Aramic) dan dipicu oleh konflik internal berupa perpecahan yang terjadi di kalangan bani Israil.

Kekacauan tersebut berlangsung sampai datangnya Nabi Samuel, nabi kaum Yahudi pada abad 11 SM. Dialah yang telah berhasil mengumpulkan perwakilan berbagai suku dari utara dan selatan dalam satu majelis. Selain itu, dia juga mencalonkan Thalut sebagai raja dari seluruh bani Israil hingga mereka membaiatnya di Jaljal, (lihat Dakwah Nabi Musa). Allah berfirman, "Nabi mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab, 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?, Nabi (mereka) berkata,' Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkas,' Allah subhanahu wa ta'ala memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui," (QS. Al-Baqarah [2]: 247).

Raja Thalut kemudian meminta bantuan kepada orang yang kuat dan ahli berperang dari keturunan Yahudza yaitu Daud. Dia adalah laki-laki yang rajin beribadah dan berserah diri kepada Allah. Allah menjadikan gunung-gunung ikut bertasbih bersamanya pagi dan petang. Allah juga menganugerahinya suara yang indah dan merdu. Dengan suara merdunya itu, dia melantunkan kitab Zabur yang Allah turunkan kepadanya.

Popularitas dan nama baik Daud pun semakin meningkat ketika terjadi perang antara pasukan Thalut dan Jalut, raja bangsa Kan'an di daerah Yabus, sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala, "Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. " (QS. Al-Baqarah [2]: 250-251).

Ketika Thalut melihat keberanian dan ketangkasan Daud, Thalut lantas mendekati dan menikahkan Daud dengan putrinya. Namun, setalah merasakan bahwa masyarakatnya cenderung mengikuti Daud, Thalut mencoba untuk berkhianat, tetapi gagal. Thalut kemudian menyesali perbuatan buruknya tersebut dengan bertaubat dan meninggalkan kerajaan hingga kematian menjemputnya. Itu terjadi saat bangsa Ibrani berkumpul di sekitar Daud. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan hikmah kepadanya serta kebijaksanaan dalam memutuskan perkara," (QS. Shad [38]:20).

Daud kemudian mulai berjuang menegakkan dan menyebarkan agama Allah di bumi Palestina di antara bangsa Kan'an dan bani Israil. Setelah berhasil menguasai kota al-Quds dan mengingat kembali Tabut (Kitab Perjanjian), negeri itu menjadi kerajaan yang kuat. Pemerintahannya menjadi semakin kuat saat dia berhasil menguasai dan menyatukan kota-kota bangsa Kan'an ke dalam kekuasaannya.

Nabi Daud Alaihissalam terus memperluas kekuasaannya hingga berhasil menaklukkan daerah Mu'ab, Edom, dan bagian timur Jordania. Setelah itu, dia menuju kota Aram dan terus ke arah Damaskus serta menaklukkannya sampai ke wilayah Hama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar