Rabu, 21 Februari 2018

Mukjizat nabi shaleh a.s

Mukjizat Nabi Shaleh A.S.

Nabi Shaleh sadar bahwa tentangan kaumnya yang menuntut bukti daripadanya berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya terutama para pengikutnya bila ia gagal memenuhi tentangan dan tuntutan mereka. Nabi Saleh membalas tentangan mereka dengan menuntut janji dengan mereka bila ia berhasil mendatangkan mukjizat yang mereka minta bahwa mereka akan meninggalkan agama dan persembahan mereka dan akan mengikuti Nabi Shaleh dan beriman kepadanya.

Sesuai dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka kaum Tsamud berdoalah Nabi Shaleh memohon kepada Allah agar memberinya suatu mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan dan tentangan kaumnya yang masih berkeras kepala itu. Ia memohon dari Allah dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina dikeluarkannya dari perut sebuah batu karang besar yang terdapat di sisi sebuah bukit yang mereka tunjuk.

Maka sejurus kemudian dengan izin Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluar dari perutnya seekor unta betina.

Dengan menunjuk kepada unta yang baru keluar dari perut batu besar itu berkatalah Nabi Saleh kepada mereka:” Inilah dia unta Allah, janganlah kamu ganggu dan biarkanlah ia mencari makanannya sendiri di atas bumi Allah ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air minum dan kamu mempunyai giliran untuk mendapatkan minum bagimu dan bagi ternakanmu juga dan ketahuilah bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya bila kamu sampai mengganggu binatang ini.”Kemudian berkeliaranlah unta di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa mendapat gangguan. Dan ketika giliran minumnya tiba pergilah unta itu ke sebuah perigi yang diberi nama perigi unta dan minumlah sepuas hatinya. Dan pada hari-hari giliran unta Nabi Shaleh itu datang minum tiada seekor binatang lain berani menghampirinya, hal mana menimbulkan rasa tidak senang pada pemilik-pemilik binatang itu yang makin hari makin merasakan bahwa adanya unta Nabi Shaleh di tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan laksana duri yang melintang di dalam kerongkong.

Dengan berhasilnya Nabi Saleh mendatangkan mukjizat yang mereka tuntut gagallah para pemuka kaum Tsamud dalam usahanya untuk menjatuhkan kehormatan & menghilangkan pegaruh Nabi Shaleh bahkan sebaliknya telah menambah tebal kepercayaan para pengikutnya dan menghilang banyak keraguan dari kaumnya. Maka dihasutlah oleh mereka pemilik-pemilik ternakan yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi Shaleh yang merajalela di ladang dan kebun-kebun mereka serta ditakuti oleh binatang-binatang peliharaannya.

Kisah Nabi Sulaiman a.s

KISAH NABI SULAIMAN A.S

Nabi Sulaiman atau Solomon diberi kekuatan yang menakjubkan oleh Allah Ta’ala. Dan kalau beliau memakai cincinnya (Cincin Nabi Sulaiman) maka Jin, setan, manusia dan binatang binatang hadir, berada dibawah kekuasaannya tuduk serta patuh.
Bahkan terdapat riwayat bahwa setan setan dipekerjakan oleh sang Nabi Sulaiman diantaranya untuk , membawa dan mengimpor batu batuan, pasir serta bahan bangunan lain untuk membangun bangunan bangunan megah.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Sulaiman memohon kepada Allah, ” Yaa Allah, Engkau telah menundukkan bagiku manusia, jin, binatang buas, burung burung dan para malaikat. Yaa Allah, aku ingin menangkap iblis, memenjarakan, merantai serta mengikatnya, sehingga manusia tidak melakukan dosa dan maksiat lagi.
Allah Ta’alaa kemudian mewahyukan kepada Nabi Sulaiman, “Wahai Sulaiman, tidak ada baiknya jika iblis ditangkap”.
Tapi Nabi Sulaiman tetap memohon, “Ya Allah, keberadaan mahluk terkutuk ini tidak ada kebaikan didalamnya”.
Allah berfirman, “Jika iblis ditangkap maka banyak pekerjaan manusia yang akan ditinggalkan.
Nabi Sualiman berkata, “Yaa Allah. aku ingin menangkap mahluk terkutuk ini selama beberapa hari saja.
Allah menjawab, “Bismillah (dengan menyebut nama Nama Allah), tangkaplah iblis”.
Kemudian Nabi Sulaiman as, dapat menangkap iblis , mengikat dan memenjarakannya.
Sementara itu, Nabi Sulaiman yang seorang raja agung ternyata dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya beliau lebih memilih makan dari hasil jerih payahnya sendiri yaitu dengan membuat kerajinan tas untuk dijual ke pasar. Beliau lebih memilih tidak makan dari uang kerajaan.
Padahal menurut riwayat, tiap hari dapur kerajaan Nabi Sulaiman memasak 4000 unta, 5000 sapi dan 6000 kambing. Makanan itu dibagikan kepada masyarakat dan anggota kerajaan. Nabi Sulaiman pemimpin yang sederhana, yang makan dari hasil usahanya sendiri dengan menjual tas tas buatannya di pasar.
Suatu pagi, Nabi Sulaiman mengutus pekerjanya untuk menjual tas tas buatannya ke pasar. Namun ternyata mereka mendapati pasar tutup semua tak ada yang berjualan. Lalu mereka memberitahukan hal itu kepada Nabi Sulaiman alaihissalam.
Nabi Sulaiman as,  bertanya :” Apa yang telah terjadi ?”
Pekerjanya menjawab, ” Kami  tidak tahu “.
Maka malam itu Nabi Sulaiman as, tidak makan hanya minum air saja.
Hari berikutnya, anak buah Nabi Sulaiman kembali menuju pasar hendak menjual tas tas produksi NabiSulaiman. Ternyata kembali mereka mendapati pasar masih sepi seperti kemarin. Pasar pasar pada tutup, orang orang menuju kuburan mengingat kematian, menangis dan meratap. Mereka sibuk mempersiapkan bekal menuju ke akherat tanpa memperdulikan lagi keindahan duniawi.
Nabi Sulaiman As, yang heran dengan sikap masyarakat itu lalu bertanya kepada Allah, ” Yaa Allah, apa yang sebenarnya  telah terjadi  ? Kenapa orang orang tidak bekerja mencari nafkah ?
Lalu, Allah mewahyukan kepada Nabi Sulaiman, ” Wahai Sulaiman, engkau telah menangkap iblis itu, sehingga akibatnya manusia tidak bergairah bekerja mencari nafkah. Bukankan sebelumnya telah KUkatakan kepadamu bahwa menangkap iblis tidak mendatangkan kebaikan.
Setelah mendapat jawaban dari Allah, maka Nabi Sulaiman segera melepaskan iblis dari penjara.
Keesokan harinya, orang orang kembali ke pasar, mereka membuka kiosnya masing masing. Orang orang kembali bersemangat bekerja mencari harta dunia untuk makan dan memenuhi kebutuhannya.
Jadi ternyata kalau tidak ada iblis yang menggoda, memberikan angan angan…kehidupan manusia juga kacau.

Kisah Nabi Nuh A.S

KISAH NABI NUH A.S
Berlalulah beberapa tahun dari kematian Nabi Adam. Banyak hal berubah di muka bumi. Dan bertepatan dengan fitrah manusia itu sendiri, terjadilah kealpaan terhadap wasiat Nabi Adam. Kesalahan yang dahulu kembali berulang. Seperti mana tika Nabi Adam dan Hawa melupakan ketetapan tuhan untuk menjauhi pohon didalam syurga, seperti itulah manusia melupakan ajaran ilahi yang dilangsungkan dimuka bumi selepas turun dari syurga.
Sebelum lahirnya kaum Nabi Nuh, telah hidup lima orang saleh dari datuk-datuk kaum Nabi Nuh. Mereka hidup selama beberapa zaman kemudian mereka mati. Nama-nama mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.
"Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr". ~ Surah Nuh ayat 23"
Setelah kematian mereka, orang-orang membuat patung-patung dari mereka, dalam rangka menghormati mereka dan sebagai peringatan terhadap mereka. Kemudian berlalulah waktu, lalu orang-orang yang memahat patung itu mati. Lalu datanglah anak-anak mereka, kemudian anak-anak itu mati, dan datanglah cucu- cucu mereka. Kemudian timbullah berbagai dongeng dan khurafat yang membelenggu akal manusia di mana disebutkan bahawa patung-patung itu memiliki kekuatan khusus.
Dalam situasi seperti ini, Allah SWT mengutus Nuh a.s untuk membawa ajaran ilahi kepada kaumnya. Nabi Nuh adalah seorang hamba yang akalnya tidak terpengaruh oleh keadaan sekeliling, yang menyembah selain Allah SWT. Allah SWT memilih hamba-Nya Nuh dan mengutusnya di tengah-tengah kaumnya.

Nabi ibrahim menghancurkan berhala raja namrud

Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala Raja Namrud
Disaat Raja Namrud dan kaumnya pergi meninggalkan negerinya dan saat itu kampung-kampungnya kosong. Maka nabi Ibrahim melaksanakan niat yang selama ini dipendamnya, yakni menghancurkan berhala-berhala yang dipuja dan disembah oleh Raja Namrud dan rakyatnya. Beliau menghancurkannya menggunakan kampak dan hanya satu yang tidak dihancurkan, sengaja kampaknya dikalungkan dileher patung terbesar itu.
Setelah Raja Namrud dan pengikutnya tiba di negerinya, maka murkalah ia terhadap kejadian itu. Raja Namrud langsung menuduh Nabi Ibrahim sebagai pelakunya, karena sudah terkenal bahwa Nabi Ibrahim sangat membenci berhala-berhala itu. Lalu Nabi Ibrahim dihadapkan padanya untuk diadili.
Sang Raja berkata dengan geram: “Wahai Ibrahim, bukankah engkau yang telah menghancurkan berhala-berhala ini?”
Bukan!” jawab Ibrahim singkat. Mendengar jawaban itu, Raja Namrud semakin geram dan berkata: “Lalu siapa lagi kalau bukan engkau, bukankah kau berada disini saat kami pergi dan bukankah engkau membenci berhala-berhala ini?”
Ya, tapi bukan aku yang menghancurkan berhala-berhala itu. Aku pikir, berhala besar itulah yang menghancurkannya, bukankah kampaknya masih berada dilehernya?” sahut Ibrahim dengan tenang.
Raja Namrud membantahnya: “Mana mungkin patung berhala dapat berbuat semacam itu!”. Mendengar hal itu dengan tegas Nabi Ibrahim berkata: “Kalau begitu, kenapa engkau menyembah berhala yang tidak dapat berbuat apa-apa?”
Mendengar pernyataan Ibrahim, para pengikutnya tersadar dan terpikir oleh mereka Tuhan yang selama ini disembah tidak dapat melihat, mendengar, dan bergerak. Namun, Raja Namrud semakin Murka.

Nabi Ibrahim Dibakar

Karena Geram dan kesalnya Raja Namrud, akhirnya ia memerintahkan para tentaranya untuk menghukum Nabi Ibrahim dengan seberat-beratnya. Nabi Ibrahim dihukum mati dengan jalan dibakar hidup-hidup.
Api dinyalakan besar sekali dengan kayu sebagai bahan bakarnya, sementara Nabi diikat dan ditempatkan ditengah-tengah tumpukan kayu. Tetapi Allah lebih berkuasa dalam segala hal. Allah belum menghendaki Nabi Ibrahim mati dan kalah oleh Raja namrud. Lalu Allah berfirman:
al-anbiya ayat 69
Artinya: “Kami berfirman: “Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya: 69)
Menyaksikan proses pembakaran itu, Raja Namrud dan para pengikutnya tertawa dengan penuh kepuasan. Mereka mengira, Nabi Ibrahim telah hancur menjadi abu bersama api itu. Namun, begitu terkejutnya mereka setelah api yang menyala dahsyat itu padam.  Nabi tiba-tiba berjalan keluar dari puing-puing pembakaran dengan selamat tanpa luka sedikitpun. Lalu beliau pergi berhijrah ke negeri Kan’an dan baitul Maqdis. Disanalah beliau hidup dan memiliki keturunan.

Kisah nabi adam lahir

Nabi Adam Berasal dari Tanah

Kata Adam berasal dari adim. Adimul Ardliberarti permukaan bumi. Nama Adam erat kaitannya dengan bahan penciptaan. Adam diciptakan dari tanah yang ada di permukaan bumi. Setelah mati, Adam dan anak cucunya juga akan dikuburkan di dalam tanah.

Akhirnya, wujud Adam menjadi sempurna. Allah kemudian meniupkan ruh kepadanya. Setelah ruh ditiupkan, Allah menyampaikan sebuah titah kepada para malaikat. Titah itu juga berlaku bagi makhluk lain yang saat itu berada dekat dengan para malaikat. Isi titah menyebutkan agar para malaikat bersujud kepada Adam. Suatu penghormatan yang tak diberikan kepada makhluk selainnya. Alhasil, para malaikat patuh kepada titah sang pencipta. Mereka bersujud kepada Adam. Namun, ada makhluk yang membangkang. Dialah si Sombong Iblis. Makhluk dari kalangan bangsa jin ini merasa sok hebat. Dia merasa lebih mulia ketimbang Adam. Alasannya, iblis diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Api lebih baik daripada tanah?

Kesombongan iblis

Sifat sombong iblis terlihat dari dua sikap. Pertama, iblis memandang rendah Adam. Di mata iblis, Adam hanyalah makhluk kemarin sore,  sedangkan dia sudah ada jauh sebelum Adam ada. Lalu, Adam pun diciptakan dari tanah, sedangkan dia diciptakan dari api. Masa, dia harus hormat kepada makhluk seperti Adam itu. Kedua, iblis menolak kebenaran. Iblis menolak untuk bersujud kepad Adam. Padahal, dia tahu bahwa yang memberi titah itu adalah Allah.

Penolakan iblis jelas merupakan kedurhakaan. Allah murka kepadanya. Akibatnya, dia diusir dari surga. Tak hanya itu, iblis juga mendapat laknat Allah sampai hari kiamat. Ciri orang yang mendapat laknat Allah ialah tak bisa keluar dari kesesatan. Itulah sebabnya, iblis selamanya berada dalam kesesatan. Bermula dari kesombongan, selanjutnya muncul kedengkian. Iblis merasa tidak nyaman lagi. Pasalnya, ada makhluk yang mendapat kemuliaan lebih darinya. Dia tak terima. Tidak boleh ada makhluk lain yang mengunggulinya. Oleh karena itu, dia ingin membuktikan kalau Adam itu tidak ada apa-apanya. Caranya, dia akan berusaha menyesatkan Adam dan anak-cucunya.

Maka, kadung mendapat laknat, iblis meminta tempo. Dia meminta umur panjang. Tak tanggung-tanggung, sampai hari kiamat. Umur selama itu akan dipergunakannya untuk membalas dendam. Iblis tidak ingin sendirian berada di neraka. Dia ingin membawa Adam dan keturunannya turut serta. 

Penciptaan Hawa

Hidup seorang diri tidaklah mengenakkan. Hal ini juga dirasakan Adam. Tak ada teman curhat. Tak ada kawan berbagi baik dalam suka maupun duka. Pendek kata, Adam merasakan kesepian. Ia membutuhkan seorang pendamping. Kemudian, Hawa diciptakan. Bahannya diambil dari tulang rusuk Adam. Ketika itu, Adam yang sedang terlelap tidur Allah mengambil tulang rusuknya yang sebelah kiri. Walau diambil tulang rusuk, Adam tak merasakan sakit. Sekiranya merasa sakit, tentu Adam tidak akan sayang kepada Hawa.

Setelah Hawa tercipta, para malaikat bertanya, "Adam, siapa yang ada di samping kau?"
"Seorang perempuan"
"Siapa namanya?"
"Hawa"
"Untuk apa Allah menciptakan Hawa?"
"Untuk mendampingi saya, memberi saya kebahagiaan, dan memenuhi keperluan hidup saya sesuai dengan kehendak Allah."

Kebahagiaan semakin lengkap. Allah menyuruh Adam dan Hawa tinggal di surga. Kehidupan di sana serba enak. Apa saja boleh dilakukan. Mereka bebas mencicipi apa saja sepuasnya. Namun, ada satu pantangan. Adam dan Hawa tidak boleh mendekati pohon larangan. Larangan ini harus dipatuhi. Jika tidak, mereka bisa celaka. Di surga, Adam tidak perlu mencari nafkah. Segala keperluan sudah tersedia. Pendek kata, Adam dan Hawa tidak akan kelaparan, kehausan, dan kelelahan. Sungguh menyenangkan. Semua boleh dilakukan. Yang penting tidak dekat-dekat dengan pohon larangan. Mudah, bukan?

Dosa Pertama Nabi Adam dan Hawa


Sejak membangkang, iblis tidak diperkenankan lagi tinggal di surga. Perasaan dendam dan dengki iblis semakin menjadi-jadi. Iblis tidak senang melihat Adam dan Hawa bahagia. Oleh karena itu, iblis lalu mencari-cari kesempatan. Dia ingin memperdaya mereka. Pokoknya, Adam juga harus keluar dari surga. Kesempatan itu kini ada. Pohon larangan! Adam dan Hawa dilarang mendekati pohon itu. Ini peluang emas, tidak boleh disia-siakan. Iblis merasa sangat senang. Inilah saat untuk membuktikan. Adam dan Hawa akan menjadi pecundang. Apa pun caranya, Adam dan Hawa harus berhasil dijerumuskan. Segala reka perdaya mesti dilakukan. Berbaga muslihat direncanakan. Pertama-tama, iblis harus mendapat kepercayaan. Dia pun melakukan pendekatan. Dia berpura-pura menganggap Adam dan Hawa sebagai teman. Tutur katanya menawan. Bermacam rayuan dibisikkan iblis. Dikatakan bahwa dia ingin memberi nasihat. Ada rahasia besar yang ingin disampaikan. Rahasia supaya Adam dan Hawa bisa hidup kekal.

Akhinya, Hawa tak kuasa menahan diri. Hawa memakan buah pohon larangan. Hawa pulang dengan perasaan senang. Diceritakannya pengalaman tadi kepada Adam. Adam begitu tertarik. Ia juga ingin mencicipi. Pohon itu kemudian didekati. Buahnya dipetik. Dan...Adam memakan buahnya.

Lengkap sudah. Adam dan Hawa melabrak larangan. Tak hanya mendekati pohon larangan, tetapi juga memakan buahnya. Tak lama kemudian, Adam dan Hawa merasakan akibatnya. Aurat mereka terbuka. Perasaan malu begitu saja membuncah. Mereka berusaha mencari-cari dedaunan. Maksudnya, untuk menutupi aurat mereka. Namun, pohon-pohon surga menjauh. Untungnya, ada satu pohon yang merasa kasihan. Pohon Tin mau memberikan daun-daunnya. Aurat mereka pun bisa tertutupi.

Adam dan Hawa sangat malu. Tak hanya karena aurat mereka terbuka. Tetapi juga, karena teguran Allah kepada mereka. Adam dan Hawa sangat menyesal. Mereka telah bebuat kesalahan. Sambil menitikkan air mata, mereka memanjatkan doa.

"Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami. Sekiranya, Engkau tidak berkenan mengampuni dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi."

Nabi Adam Diturunkan ke Bumi

Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Tobat Adam dan Hawa diterima. Kesalahan mereka diampuni. Adam dan Hawa merasa tenang. Ampunan Allah membuat hati mereka terasa lega. Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga. Adam dan Hawa sadar. Iblis benar-benar musuh. Musuh yang harus senantiasa diwaspadai. Segala bujuk rayunya mesti dijauhi. Hidup kekal ternyata muslihat iblis. Akibat terperdaya, kini Adam dan Hawa harus pindah. Mereka tak bisa lagi tinggal di Surga. Allah menyuruh mereka turun ke bumi. Sekarang, Adam dan Hawa tinggal di bumi. Mengemban tugas menjadi khalifah. Namun, perseteruan iblis dan Adam terus berlanjut. Iblis akan terus berusaha mewujudkan janjinya. Janji untuk menyesatkan Adam.

Demikian, Adam dan Iblis menjadi musuh bebuyutan. Permusuhan ini juga berlaku untuk keturunan Adam dan iblis. Permusuhan akan terus berlangsung sampai hari kiamat. Kenikmatan surga tinggal kenangan. Dulu, di surga serbaada. Mau makan tinggal makan, mau minum tinggal minum. Namun di bumi, Adam dan Hawa tak bisa berpangku tangan. Mencari sesuap nasi menjadi tugas. Mereka harus bekerja keras.

Saat diturunkan ke bumi, Adam dan Hawa terpisah. Hawa diturunkan di daerah Jeddah, Saudi Arabia. Kata Jeddah berarti nenek. Hawa adalah nenek seluruh umat manusia. Sementara itu, Adam diturunkan di daerah Hindustan. Keduanya bertemu di Jabal Rahmah di dataran Arafah. Oleh karena itu, Jabal Rahmah kerap dijadikan simbol “cinta” oleh para peziarah. Perasaan bahagia begitu membuncah. Betapa tidak, sekian lama berpisah akhirnya bertemu jua. Hidup menjadi lebih bersemangat. Sekarang, keduanya bisa berkumpul lagi. Berjuang bersama lebih mudah daripada sendiri-sendiri. Bisa saling menjaga, dan saling menasihati.

Dakwah nabi daud a.s


DAKWAH NABI DAUD A.S 

Setelah wafat Nabi Yusya' bin Nun wafat, krisis dan kekacauan kian parah melanda bani Israel di Palestina. Banyak di antara mereka berpaling dari agama Yahudi kepada penyembahan berhala (paganisme) yang telah menjalar di kalangan masyarakat Kan'an. Karena itu, sekelompok pimpinan setempat bangkit memerangi keyakinan sesat tersebut. Mereka adalah para hakim yang bebreapa periode sejarah Yahudi dinamakan dengan nama mereka.

Pada pertengahan era itu, bangsa Palestina menyerang bani Israil untuk merampas Tabut, kitab perjanjian. Hal ini juga dilakukan oleh bangsa Madyan, Ammonoid, Moabite, dan Aram (Aramic) dan dipicu oleh konflik internal berupa perpecahan yang terjadi di kalangan bani Israil.

Kekacauan tersebut berlangsung sampai datangnya Nabi Samuel, nabi kaum Yahudi pada abad 11 SM. Dialah yang telah berhasil mengumpulkan perwakilan berbagai suku dari utara dan selatan dalam satu majelis. Selain itu, dia juga mencalonkan Thalut sebagai raja dari seluruh bani Israil hingga mereka membaiatnya di Jaljal, (lihat Dakwah Nabi Musa). Allah berfirman, "Nabi mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab, 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?, Nabi (mereka) berkata,' Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkas,' Allah subhanahu wa ta'ala memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui," (QS. Al-Baqarah [2]: 247).

Raja Thalut kemudian meminta bantuan kepada orang yang kuat dan ahli berperang dari keturunan Yahudza yaitu Daud. Dia adalah laki-laki yang rajin beribadah dan berserah diri kepada Allah. Allah menjadikan gunung-gunung ikut bertasbih bersamanya pagi dan petang. Allah juga menganugerahinya suara yang indah dan merdu. Dengan suara merdunya itu, dia melantunkan kitab Zabur yang Allah turunkan kepadanya.

Popularitas dan nama baik Daud pun semakin meningkat ketika terjadi perang antara pasukan Thalut dan Jalut, raja bangsa Kan'an di daerah Yabus, sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala, "Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. " (QS. Al-Baqarah [2]: 250-251).

Ketika Thalut melihat keberanian dan ketangkasan Daud, Thalut lantas mendekati dan menikahkan Daud dengan putrinya. Namun, setalah merasakan bahwa masyarakatnya cenderung mengikuti Daud, Thalut mencoba untuk berkhianat, tetapi gagal. Thalut kemudian menyesali perbuatan buruknya tersebut dengan bertaubat dan meninggalkan kerajaan hingga kematian menjemputnya. Itu terjadi saat bangsa Ibrani berkumpul di sekitar Daud. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan hikmah kepadanya serta kebijaksanaan dalam memutuskan perkara," (QS. Shad [38]:20).

Daud kemudian mulai berjuang menegakkan dan menyebarkan agama Allah di bumi Palestina di antara bangsa Kan'an dan bani Israil. Setelah berhasil menguasai kota al-Quds dan mengingat kembali Tabut (Kitab Perjanjian), negeri itu menjadi kerajaan yang kuat. Pemerintahannya menjadi semakin kuat saat dia berhasil menguasai dan menyatukan kota-kota bangsa Kan'an ke dalam kekuasaannya.

Nabi Daud Alaihissalam terus memperluas kekuasaannya hingga berhasil menaklukkan daerah Mu'ab, Edom, dan bagian timur Jordania. Setelah itu, dia menuju kota Aram dan terus ke arah Damaskus serta menaklukkannya sampai ke wilayah Hama.

Dakwah nabi musa a.s

Dakwah Nabi Musa as Kepada Fir’aun
Nama beliau adalah Musa bin Imran bin Qahits bin ‘Azir bin Lawiy bin Ya’qub as bin Ishaq as bin Ibrahim as. (Al-Bidayah wan Nihayah, karya Imam Ibnu Katsir)
Nabi Musa as adalah salah satu dari lima nabi yang diberi julukan ulul ‘azmi, sebutan ini adalah suatu julukan bagi para nabi yang memiliki kedudukan khusus karena ketabahan dan kesabaran mereka yang luar biasa dalam berdakwah. Mereka adalah; Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad alaihimussholatu was salam.
Nabi Musa as memiliki julukan spesial yaitu ‘kaliimullah’ (orang yang diajak bicara oleh Allah), diberi julukan itu karena beliau berbicara kepada Allah SWT langsung tanpa perantara. Ini juga merupakan keutamaan tersendiri bagi Nabi Musa as dimana para nabi lainnya menerima wahyu melalui perantara Malaikat Jibril as kecuali Nabi Muhammad SAW pada peristiwa isra’ mi’raj.
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
“…Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa’: 164)
Apabila membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir, kita akan banyak menemui nama ‘Musa’ dalam Al-Qur’an, Nabi Musa as memang memiliki keistimewaan tersendiri dalam Al-Aqur’an, Nama beliau adalah nama nabi terbanyak yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dibanding dengan nabi-nabi lainnya, kisah beliau juga kisah paling sering disebutkan dalam Al-Qur’an dalam banyak surah baik secara singkat ataupun terperinci. Diantara surah paling rinci yang bercerita tentang beliau adalah Surah Al-Qashash.
Beliau adalah keturunan Nabi Ibrahim as dari putranya yang bernama Ishaq as sebagaimana bisa anda lihat nama dan nasab beliau diatas. Nabi Musa as diutus oleh Allah SWT kepada Fir’aun, seorang raja kafir yang dzolim dan biadab.
Kisah Nabi musa as dengan Fir’aun disebutkan di banyak tempat dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah  dalam surah An-Nazi’at dari ayat 15 sampai dengan ayat 26 yang akan kita bahas dalam artikel ini.
Allah SWT berfirman:
هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰ.  إِذْ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلْوَادِ ٱلْمُقَدَّسِ طُوًى. ٱذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ. فَقُلْ هَل لَّكَ إِلَىٰ أَن تَزَكَّىٰ. وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰ.
Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Thuwa; “Pergilah kamu kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas, dan Katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?“” (QS. An-Nazi’at: 15-19).
Allah SWT memanggil Nabi Musa as tatkala beliau melewati suatu lembah suci di Mesir yang bernama ‘Thuwa’. Di situlah Nabi Musa as mendapatkan perintah untuk pergi menuju Fir’aun dan mengajaknya beriman kepada Allah SWT. Menyadari bahwa ia mendapatkan perintah yang tidak mudah ditambah dengan lisan beliau yang kurang fasih, Nabi Musa as memohon kepada Allah SWT untuk mengutus seseorang untuk menemaninya menemui Fir’aun, Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Musa as dan memilih Nabi Harun as saudara Nabi Musa as sendiri untuk menjadi temannya menuju Fir’aun.
Tak hanya memerintahkan Nabi Musa as menuju Fir’aun, Allah SWT juga mengajari beliau tata cara berbicara yang baik dengan Fir’aun yang dzolim dan kafir. Allah SWT mengajari Nabi Musa as kata-kata yang lembut dan halus untuk ditujukan kepada Fir’uan. Padahal Fir’aun adalah orang yang paling kafir karena ia tidak hanya mendustakan ketuhanan Allah, tapi ia juga mengaku dirinya sebagai tuhan, dan inilah tingkat kekufuran yang paling besar.
Dalam ayat lain di Surah Thaha Allah berfirman:
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44).
Inilah yang Allah SWT ajarkan kepada Nabi Musa as untuk menghadapi Fir’aun, yaitu dengan berkata-kata lembut. Disini patut kita ambil pelajaran bagaimana cara mengajak atau menasehati orang lain, jika Nabi Musa as saja diperintahkan untuk berkata-kata lembut kepada Fir’aun yang kafir, maka dalam menasehati saudara kita yang sesama muslim dikala mereka salah lebih diperintahkan.
Setelah Nabi Musa as sampai kepada Fir’aun dan menyampaikan dakwah beliau, Allah menjelaskan bagaimana reaksi Fir’au, Allah berfirman:
Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian Dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka Dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”.” (QS. An-Nazi’at: 20-24).
Nabi Musa as tidak hanya mengajak Fir’aun beriman tapi juga memperlihatkan mukjizat sebagai bukti kenabian beliau yang berupa tongkat yang berubah menjadi ular besar dan sinar yang memancar dari tangan beliau. Namun Fir’aun yang hatinya sudah tertutup dan dipenuhi oleh rasa sombong tetap bersikeras dalam kekufurannya.
Fir’aun justru tambah menentang, ia berpaling dari semua ajakan Nabi Musa as dan mengumpulkan rakyatnya seraya mengatakan “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”. Maksudnya adalah; tiada tuhan diatas aku.
Menurut Ibnu Abbas ra dan Mujahid, kata-kata Fir’aun diatas ia katakan empat tahun setelah perkataannya yang pertama:
Dan Fir’aun berkata: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku…” (QS. Al-Qashash: 38).
Maka di ayat berikutnya Allah SWT berfirman:
Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.” (QS. An-Nazi’at: 25)
Disini para ahli tafsir berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud الآخرة والأولى (yang pertama dan yang terakhir):
Pendapat pertama adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri dan Qatadah yang mengatakan bahwa maksud ‘yang pertama’ adalah adzab di dunia dimana Fir’aun ditenggelamkan ke laut, dan ‘yang terakhir’ adalah adzab api neraka. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam Ibnu Katsir.
Pendapat kedua adalah pendapat Imam Mujahid dan sekelompok ahli tafsir yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘yang pertama’ adalah perkataan Fir’aun; ما علمت لكم من إله غيري (aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku) dan yang dimaksud dengan yang kedua adalah perkataannya: أنا ربكم الأعلى (Akulah Tuhanmu yang paling tinggi), dan antara kedua perkataan tersebut jeda waktu selama 40 tahun.
Kemudian di ayat berikutnya Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” (QS. An-Nazi’at: 26).
Kisah ini adalah sebagai pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada kepada Allah SWT. Dalam ayat lain Allah berfirman:
Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[*]supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” (QS. Yunus: 92)
[*] Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir, Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan.

Selasa, 20 Februari 2018

Dakwah Nabi Muhammad saw

DAKWAH NABI MUHAMMAD A.S
Ada dua tahap dakwah yang dilakukan Muhammad. Pertama Dakwah secara diam-diam selama 3 tahun. Keluarga dan sahabat Nabi yang masuk Islam pada tahap ini antara lain Khadijah, Abu Bakar as-Siddiq, dan Ali bin Abi Talib. Kedua, dakwah secara terang-terangan, yang dilakukan Nabi setelah turun perintah Allah (Q.15:94). Dakwah ini berlangsung hingga Nabi wafat. Banyak sahabat yang memeluk Islam pada masa ini, antara lain Umar bin Khattab dan Usman bin Affan.
AKSI MENENTANG DAKWAH
Kaum musyrik Quraisy tak mampu menghentikan dakwah Muhammad. Berbagai cara mereka lakukan, tapi hasilnya tetap nihil. Mereka lalu mengutus 10 orang untuk menemui Abi Talib dan meminta agar ia mau membujuk keponakannya berhenti berdakwah. Namun Muhammad menolak permintaan tersebut. Melihat keteguhan hati Muhammad, Abi Talib akhirnya mendukung keputusan keponakannya itu dan berjanji untuk selalu melindunginya dari ancaman orang Quraisy.
TAHUN DUKA CITA
Muhammad benar-benar sedih ketika Abi Talib yang menjadi pelindung utamanya wafat pada bulan Ramadan 2 SH, dalam usia 87 tahun. Belum hilang kesedihannya, Khadijah, istrinya yang ia cintai dan selalu mendampinginya dalam perjuangan, juga meninggal dunia. Muhammad sangat sedih dengan wafatnya kedua orang yang menjadi pembela risalahnya itu. Karena itu, tahun ke- 10 kenabian ini disebut ‘Am al-Huzn (tahun duka cita).
ISRA` MI`RAJ
Pada tahun ke-10 kenabian, terjadi peristiwa Isra Mikraj. Allah Swt. memperjalankan Nabi Saw. pada malam hari (Isra) dari Masjidilharam di Mekah ke Masjidilaksa di Yerusalem, kemudian membawanya naik (mikraj) ke langit agar bisa menyaksikan kekuasaan Allah Swt. (Q.17:1). Dalam kesempatan mi’raj itulah Nabi menerima perintah dari Allah Swt. berupa kewajiban menjalankan salat lima waktu.
DAKWAH KE THA’IF
Gangguan kaum Kuraisy terhadap Muhammad semakin menjadi-jadi setelah paman dan istrinya wafat. Pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian, Muhammad pergi ke luar kota Mekah menuju Ta’if (65 km sebelah tenggara Mekah) bersama anak angkatnya, Zaid bin Harisah, untuk menyebarkan dakwah. Selama sepuluh hari, Nabi Saw. menemui para pemuka Bani Saqif. Namun kehadiran Nabi di sana ditolak oleh mereka.
IKRAR AQABAH
Suatu saat Nabi bertemu dengan enam orang suku Aus dan Khazraj dari Yatsrib. Nabi menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan agama Islam. Mereka pun lalu menyatakan masuk Islam di hadapan Nabi. Setelah pulang ke Yatsrib, mereka memberitahukan hal tersebut kepada penduduk lainnya. Pada musim haji berikutnya, datanglah delegasi suku Aus dan Khazraj menemui Nabi di Aqabah. Mereka menyatakan ikrar kesetiaan kepada Nabi, yang kemudian dikenal dengan Ikrar Aqabah. Mereka juga meminta agar Nabi bersedia pindah ke Yatsrib untuk menghindari gangguan orang Kuraisy. Mereka berjanji akan membela Nabi dari segala ancaman.

Dakwah nabi isa a.s

Dakwah Nabi Isa a.s

 Nabi Isa a.s. mulai berjuang menyiarkan ajaran Allah Swt., membeberkan kesalahan para pemuka agama Yahudi, dan menyadarkan mereka tentang penyimpangan mereka dari ajaran Nabi Musa.


Karena itu, ia berseru kepada Bani Israil agar mereka mematuhi perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. (Q.19:31-36). 

Ia berdakwah supaya mereka bertobat, yakni kembali ke jalan benar yang telah dirintis oleh para nabi sebelumnya. Namun, dakwah Nabi Isa mendapat perlawanan dengan berbagai fitnah dan ejekan. 

Mereka memintanya untuk membuktikan kenabian serta kerasulannya dengan maksud untuk menghilangkan pengaruh dan wibawanya. Nabi Isa menunjukkan beberapa mukjizat kepada mereka, tetapi tetap saja ada yang tidak percaya. 

Nabi Isa, menerima tugas yang berat untuk mengemban amanah kenabian. Mengemban tugas kenabian tidaklah mudah, dan menemui banyak tantangan. 

Pada saat itu, kaum Bani Israil banyak melakukan penyimpangan. Dosa-dosa telah menjadi kebiasaan dan menganggapnya sebagai kewajaran.

Lebih parahnya, para pendeta tidak bisa diandalkan. Karena mereka cenderung membiarkan kemaksiatan. Mereka tak segan-segan mengubah ketentuan. Halal menjadi haram dan haram menjadi halal.

Beliau pun memulai dakwahnya dengan menyampaikan ajaran agama kepada kaum Bani Israil. Pada saat itu para pendeta masih memegang teguh kitab Taurat. 

Para pendeta tersebut menyuruh kaum Bani Israil untuk menentang Nabi Isa. Berita Nabi Isa mengajar agama diketahui oleh Raja Herodes. 

Dia tak percaya akan ajaran-ajaran Nabi Isa dan meminta menunjukkan mukjizat. Herodes pun langsung mengumpulkan rakyatnya untuk melihat mukjizat Nabi Isa. 

Lalu, Nabi Isa membuat sebuah patung dari tanah liat dengan bentuk burung. Kemudian dia meniup burung itu. Atas izin Allah SWT, burung dari tanah liat tersebut tiba-tiba hidup dan terbang.

Banyak orang orang-orang yang berdecak kagum melihat kejadian itu.

Tidak hanya itu saja, pada suatu hari Nabi Isa didatangi oleh dua orang yang memiliki penyakit, yaitu tunanetra dan kusta. 

Berkat izin Allah, orang buta sejak lahir tersebut dapat melihat kembali. Begitupun dengan orang yang menderita penyakit kusta.

Penyakitnya sirna tidak ada sedikitpun bekas-bekas penyakit yang nampak menjijikan seperti di tubuhnya sebelumnya.

Para kaum Bani Israil yang masih kafir bersekongkol dengan para pendeta untuk mengucilkan Nabi Isa. Beliau memiliki beberapa pengikut dan jumlahnya dua belas orang.

Mereka terkenal dengan sebutan Hawariyyun dan mereka sangat setia kepada Nabi Isa.

Ketika Nabi Isa melakukan suatu perjalan dan melawati sebuah padang pasir yang gersang, kering serta panas masalah pun timbul.

Rombongan tersebut kehabisan bekal, dan setiap orang sangat lapar dan haus.

Para pengikut mulai mengeluh dan mulai berkata macam-macam. Nabi Isa berdoa kepada Allah untuk menurunkan hidangan dari langit. 

Allah mengabulkan permintaannya dengan syarat apabila ingkar akan terkena azab yang sangat berat yang belum pernah ditimpakan kepada siapapun.

Lambat laun dakwah Nabi Isa mendapat sambutan yang sangat besar. Semakin hari pengikut Nabi Isa semakin banyak.

Namun ada pihak lain yang merasa dirugikan, yaitu para kaum Bani Israil yang masih kafir dan para pendeta yang tidak terima akan dakwahan Nabi Isa. 

Rencana diatur sedemikian rupa. Tentara pilihan dikumpulkan untuk membunuh Nabi Isa. Rencana pembunuhan tersebut diketahui oleh salah satu pengikut Nabi Isa dan segera dilaporkan ke beliau.

Mereka segera menyelamatkan diri dan hidup berpindah-pindah tempat.

Salah satu murid Nabi Isa bernama Yudas, terbujuk akan iming-iming hadiah sebesar 30 dinar dengan syarat harus memberitahukan tempat persembunyian Nabi Isa dan Hawariyyun.

Yudas berkhianat, dia membocorkan tempat persembunyian Nabi Isa. Mendengar informasi dari Yudas, tentara Romawi langsung bergerak.

Tentara Romawi langsung menangkap seseorang yang sangat mirip dengan Nabi Isa yaitu Yudas yang telah berkhianat. Sebelumnya saat akan ditangkap oleh tentara Romawi, Allah mengangkat Nabi Isa ke langit. 

Kemudian Allah mengubah wajah Yudas dengan wajah Nabi Isa. Sehingga akhirnya Yudas mendapatkan pukulan bertubi-tubi dan terus diseret. 

Tubuh Yudas penuh dengan luka dan wajahnya memar akibat pukulan. Yudas menghembuskan napas terakhirnya di tiang salib. 

Di dalam Alquran disebutkan bahwa Nabi Isa kan diturunkan kembali ke bumi oleh Allah SWT sebelum hari kiamat kelak. Allah SWT akan menugaskan Nabi Isa untuk menghadapi Dajjal yang suka membuat bencana di bumi.

Kisah Nabi Musa a.s

Kisah Nabi Musa AS

Nabi Musa as. adalah anak laki-laki dari seorang ibu yang bernama Yukabad dan seorang ayah yang bernama Imran. Beliau bersudara dengan nabi Harun as. Nabi Musa as. dilahirkan ketika zaman pemerintahan Raja Fir’aun. Fir’aun merupakan seorang raja yang zalim, takabur, bahkan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Siapa saja yang tidak menuruti semua perintahnya, maka mati adalah hukumannya.
Suatu hari Fir’aun bermimpi bahwa negeri Mesir habis terbakar, semua rakyatnya mati kecuali orang-orang Israil yang masih tetap hidup. Ketika fir’aun bangun, ia segera mencari ahli nujum untuk menakwilkan arti mimpinya itu. Jawaban yang diperoleh dari para ahli nujum ialah mimpinya merupakan pertanda akan datangnya seorang laki-laki dari Bani Israil yang akan menjatuhkan kekuasaannya.
Mendengar jawaban itu, Fir’aun segera memerintahkan seluruh tentaranya untuk memeriksa setiap rumah penduduk dan membunuh setiap bayi laki-laki dari Bani Israil. Keputusannya itu diumumkan ke seluruh pelosok negeri agar semua rakyat mematuhi undang-undang itu.
Allah SWT memberi ilham kepada ibu Nabi Musa As. untuk menghanyutkan bayinya itu ke sungai Nil. Dengan kekuasan-Nya, bayi Musa As. terapung di dalam sebuah peti dan berjalan mengikuti arus sungai menuju kolam pemandian istana Fir’aun. Akhirnya, peti itu ditemukan oleh Siti Asiah istri Raja Fir’aun yang kemudian dibawanya ke dalam Istana.
Melihat bayi di tangan istrinya, Fir’aun segera menghunus pedangnya untuk membunuh bayi laki-laki yang berada di tangan istrinya itu. Kemudian, Siti Asiah melindunginya seraya berkata “Bayi ini jangan dibunuh, sebaiknya kita jadikan ia sebagai anak angkat, karena aku sudah menyayanginya dan bukankan kita tidak memiliki anak? ” Mendengar itu, Fir’aun akhirnya tak bisa berbuat apa-apa, maka sejak itulah Nabi Musa diangkat sebagai anaknya.